<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara GEA &#187; Batuan Metamorf</title>
	<atom:link href="http://suaragea.com/tag/batuan-metamorf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suaragea.com</link>
	<description>We are GEA. We Talk about Earth.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 May 2010 05:44:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Batuan Metamorf</title>
		<link>http://suaragea.com/2009/05/08/batuan-metamorf/</link>
		<comments>http://suaragea.com/2009/05/08/batuan-metamorf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 15:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Risa Triandari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geologi]]></category>
		<category><![CDATA[Petrologi]]></category>
		<category><![CDATA[Batuan Metamorf]]></category>
		<category><![CDATA[Metamorfisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaragea.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit esai tentang batuan metamorf yang diterjemahkan dan diringkas dari buku Physical Geology (Twelfth Edition) yang ditulis oleh C. Plummer dan D. Carlson dan diterbitkan pada tahun 2007. (By the way, saya sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu geologi secara umum. Terutama yang masih awam akan ilmu geologi karena didukung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Sedikit esai tentang batuan metamorf yang diterjemahkan dan diringkas dari buku<a href="http://search.barnesandnoble.com/Physical-Geology/Charles-C-Plummer/e/9780077216061"><em> Physical Geology (Twelfth Edition)</em></a> yang ditulis oleh <em>C. Plummer </em>dan<em> D. Carlson </em>dan diterbitkan pada tahun 2007. (<em>By the way</em>, saya sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu geologi secara umum. Terutama yang masih awam akan ilmu geologi karena didukung oleh gambar-gambar yang memudahkan kita dalam memvisualisasikan penjelasannya dan bahasanya mudah dicerna.<em></em>) Semoga dapat bermanfaat ya =)</p></blockquote>
<p><strong>BATUAN METAMORF</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Siklus batuan menunjukkan kemungkinan batuan untuk berubah bentuk. Batuan yang terkubur sangat dalam mengalami perubahan tekanan dan temperatur. Jika mencapai suhu tertentu, batuan tersebut akan melebur menjadi magma. Namun, saat belum mencapai titik peleburan kembali menjadi magma, apa yang terjadi pada batuan tersebut? Batuan tersebut berubah menjadi batuan metamorf.</p>
<p>Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami proses metamorfosis. Proses metamorfosis terjadi hanya di dalam Bumi. Proses tersebut mengubah tekstur asal batuan, susunan mineral batuan, atau keduanya. Proses ini terjadi dalam <em>solid state</em>, artinya, batuan tersebut tidak melebur. <em>Bayangkan sebuah roti yang berubah menjadi roti bakar. </em>Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa fluida – terutama air – memiliki peranan penting dalam proses metamorfosis.</p>
<p>Batugamping termetamorfosis menjadi marmer.</p>
<p>Butiran halus kalsit pada batugamping terekristalisasi menjadi butiran besar. Perubahan yang terjadi hanya pada teksturnya.</p>
<p>Serpih termetamorfosis menjadi mika berbutir besar.</p>
<p>Mineral lempung pada serpih tidak stabil pada temperatur tinggi. Perubahan yang terjadi, selain teksturnya, juga mencakup pembentukan mineral baru.</p>
<p><strong>FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK BATUAN METAMORF</strong></p>
<p>1. Komposisi Mineral Batuan Asal</p>
<p>2. Temperatur dan Tekanan Selama Metamorfosis</p>
<p>3. Pengaruh Gaya Tektonik</p>
<p>4. Pengaruh Fluida<br />
<span id="more-15"></span><br />
<strong>KLASIFIKASI BATUAN METAMORF</strong></p>
<p>Batuan metamorf diklasifikasikan berdasakan ada atau tidaknya foliasi. Foliasi adalah struktur planar pada batuan metamorf yang disebabkan oleh pengaruh tekanan diferensial saat proses metamorfosis.</p>
<p><strong>Tidak Terfoliasi</strong></p>
<p>Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut komposisi mineralnya.</p>
<p><em>Marmer</em> terdiri dari butiran kalsit berukuran kasar. Jika batuan asalnya adalah dolomit, namanya menjadi marmer dolomit.</p>
<p><em>Kuarsit</em> terdiri dari butiran  kuarsa yang terlaskan bersama dan terikat kuat pada temperatur tinggi.</p>
<p><em>Hornfels </em>berukuran butir sangat halus. Hornfels mika berasal  dari serpih dan hornfels amphibole berasal dari basalt.</p>
<p><strong>Terfoliasi </strong></p>
<p>Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut tipe foliasinya. Makin jelas foliasinya, makin tinggi derajat metamorfosisnya (menandakan makin tingginya tekanan/temperatur)<em>.</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="94" valign="top">
<p align="center">Derajat metamorfosis</p>
</td>
<td width="72" valign="top">
<p align="center">Struktur</p>
</td>
<td width="112" valign="top">
<p align="center">Nama Batuan</p>
</td>
<td width="99" valign="top">
<p align="center">Mineral Penciri</p>
</td>
<td width="191" valign="top">
<p align="center">Karakter Khas</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" width="94" valign="top">Makin rendah</td>
<td width="72" valign="top">Slaty</td>
<td width="112" valign="top">Slate/Batusabak</td>
<td width="99" valign="top">Lempung,   silika melembar</td>
<td width="191" valign="top">Butiran   sangat halus. Kilap <em>earthy</em>. Mudah   membelah menjadi lembaran tipis datar.</td>
</tr>
<tr>
<td width="72" valign="top">Slaty –   Schistose</td>
<td width="112" valign="top">Phyllite</td>
<td width="99" valign="top">Mika</td>
<td width="191" valign="top">Butiran   halus. Kilap sutra.  Membelah mengikuti   permukaan bergelombang.</td>
</tr>
<tr>
<td width="72" valign="top">Schistose</td>
<td width="112" valign="top">Schist</td>
<td width="99" valign="top">Biotit,   amfibol muskovit</td>
<td width="191" valign="top">Berkomposisi   mineral melembar dan memanjang dengan susunan mendatar. Variasi mineral yang   luas.</td>
</tr>
<tr>
<td width="72" valign="top">Gneissic</td>
<td width="112" valign="top">Gneiss</td>
<td width="99" valign="top">Feldspar,   kuarsa, amfibol, biotit</td>
<td width="191" valign="top">Mineral gelap dan terang terpisah dan membentuk perlapisan atau lenses. Perlapisan mungkin berlipat. Lapisan gelap: biotit, hornblende; lapisan terang: felspar, kuarsa</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>JENIS-JENIS METAMORFISME</strong></p>
<p><strong>Metamorfisme Kontak/Termal</strong></p>
<p>Metamorfisme ini faktor dominannya ialah temperatur tinggi. Tekanan <em>confining</em> (tekanan yang pengaruhnya sama besar ke semua permukaan benda) juga berpengaruh, namun tidak signifikan. Kebanyakan terjadi &lt; 10 km di bawah permukaan Bumi. Metemorfisme kontak terjadi pada batuan intrusi jika ada magma yang mengintrusi batuan tersebut. Prosesnya menghasilkan efek yang dikenal dengan sebutan <em>baking effect. </em>Zona kontak ini (disebut <em>aureole</em>) tidak terlalu luas, hanya sekitar 1 – 100 meter. Karena tekanan diferensial (tekanan yang pengaruhnya tidak sama besar ke semua permukaan benda) juga tidak terlalu signifikan, batuan metamorf yang terbentuk biasanya tidak terfoliasi.</p>
<p><strong>Metamorfisme Regional/Dinamotermal</strong></p>
<p>Metamorfisme ini terjadi pada kedalaman yang signifikan yakni &gt; 5 km. Batuan jenis ini merupakan yang paling banyak tersingkap di permukaan. Biasanya pada dasar pegunungan yang bagian atasnya tererosi. Batuan dari proses ini kebanyakan terfoliasi, menandakan tingginya tingkat tekanan diferensial (akibat gaya tekonik). Temperatur saat terjadi proses ini bervariasi, tergantung oleh kedalaman dan kehadiran badan magma. Kehadiran mineral indeks dapat menentukan tingkat tekanan dan temperatur proses rekristalisasi. Contohnya: schisthijau dan batuschist yang mengandung mineral klorit, aktinolit, dan plagioklas kaya sodium, terbentuk pada P &amp; T lebih rendah; sedangkan amphibolit yang mengandung hornblende, plagioklas feldspar, dan terkadang garnet, terbentuk pada P &amp; T lebih tinggi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaragea.com/2009/05/08/batuan-metamorf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
