•  
  •  
  •  

Sekilas Endmin: Kimberlit – Intan



Intan adalah salah satu mineral yang paling banyak di cari orang sebagai perhiasan. Intan merupakan mineral dengan struktur kristal yang kuat, disebabkan karena ikatan kovalennya yang kuat. Hasilnya, Intan memegang peringkat pertama dalam kekerasan batuan, konduktor termal, dan pendispersi cahaya yang paling indah. Susunan atomnya berupa ikatan antar atom C. Intan digunakan sebagai alat pemotong (misal dalam pemboran) dan pemoles.

Dalam geologi, intan dapat ditemukan dalam batuan Kimberlit. Kimberlit merupakan batuan beku ultramafik potasik yang kaya akan zat volatil, dan didominasi oleh mineral olivin. Karena dominasi mineral olivin, maka jenis kimberlit dibedakan berdasarkan mineral lain yang kurang dominan seperti monticellite (kalsium olivin, Ca2SiO4), phloglopite (magnesian biotit), diopsid (Ca-Mg klinopiroksen), serpentin atau kalsit, serta apatit, magnetit, kromit, garnet, intan dan mineral-mineral bertemperatur dan bertekanan tinggi lainnya.

Kimberlit

Kimberlit berasal dari kedalaman yang sangat tinggi, diperkirakan dari magma yang berasal dari mantel bagian atas. Teori pembentukkan kimberlit menyatakan bahwa magma asal berasal dari kedalaman sekitar 150 km, dan bergerak menerobos ke atas dengan kecepatan yang cukup tinggi, seperti balon yang dilepaskan dalam medium kental atau viskositas tinggi. Laju intrusi melambat di dekat permukaan dan tudung gas (gas cap) terbentuk di bagian atas intrusi. Tekanan yang tinggi akan meledakkan tudung gas ini, menyebabkan terbentuknya tuffisit (batuan intrusif fragmental akibat pelepasan ledakan gas) dan breksia di dalam dan sekitar kawah ledakan. Kimberlit dapat berupa intrusi dengan bentuk air mata atau tear drop.

Kimberlit dapat dibagi menjadi 3 fasies berdasarkan teksturnya

  • Hipabisal, bagian bawah kimberlit, porfiritik, dan merupakan hasil kristalisasi magma kimberlit
  • Diatrem, merupakan badan intrusi, mengandung fragmen-fragmen mantel dan kerak, lapili kimberlit, fragmen kimberlit, dan mineral-mineral penyusun kimberlit.
  • Kawah (crater), merupakan bagian atas sebuah kimberlit, didominasi oleh tuffisit dan breksia.

Tidak semua kimberlit mengandung intan. Salah satu panduan untuk eksplorasi adalah dengan melihat mineraloginya. Umumnya, mineral yang berasosiasi dengan intan adalah kromium diopsid, Magnesium Ilmenit, Mg-Al garnet yang mengandung kromium yang tinggi dan kalsium yang rendah.

- Dari The Geology of Ore Deposits (Guilbert dan Park, 1986) -
- Gambar dari en.wikipedia.org -

Sekilas Endmin: Anortosit – Titanium


(Titanium, dari wikipedia)

Titanium merupakan logam dengan nomor atom 22 dan ditemukan oleh William Gregor di Inggris tahun 1791. Titanium dapat dicampur dengan besi, aluminium, vanadium, molibdenum dan unsur lain untuk membentuk logam campuran yang kuat dan ringan untuk pesawat (mesin jet, misil), keperluan militer, proses industri (kimia dan petrokimia, kertas), automotif, dan lain-lain.

Mineral yang mengandung titanium adalah mineral magnetit dan hematit yang mengandung titanium, atau mineral bijih titanium ilmenit (FeTiO3) dan rutile (TiO2). Kebanyakan mineral-mineral ini ditemukan dan berasosiasi dengan batuan beku anortosit dan endapan placer marin.

(Ilmenit, dari Wikipedia)

(Rutile, dari Wikipedia)

Anortosit yang mengandung mineral bijih titanium dapat dibagi menjadi dua pengertian:

  • Anortosit merupakan batu yang terdiri dari 90% atau lebih plagioklas intermedier hingga asam (anortit, atau An90-An100)
  • Ada juga mengatakan bahwa anortosit adalah batuan monomineral dengan mineral penyusun plagioklas An35 atau lebih

Pembentukkan anortosit dapat terjadi dengan cara:

  • Kristalisasi mineral pada proses crystall settling (seperti pada pengendapan endapan ortomagmatik atau early magmatic), sehingga endapan membentuk perlapisan atau layered mafic intrusion
  • Anortosit masif, berupa batuan pluton yang mengandung andesit dan labradorit (An35-An65)

Anortosit juga dapat terbentuk akibat partial melting dari komposisi toleit pada kedalaman rendah di astenosfir dan kemungkinan disebabkan akibat shallow rifting.

Pembentukkan mineral yang kaya akan titanium terjadi pada tahap akhir pembentukkan magma, dan kristalisasi titanium dikontrol oleh:

  • Kelimpahan awal Ti
  • Perubahan aktifitas kimia silika, aluminium, besi dan variabel tekanan parsial oksigen
  • Pembentukkan immiscible liquids yang kaya titanium
  • Temperatur kristalisasi

Karena anortosit termasuk dalam endapan early magmatic, batuan ini terbentuk di kontinen yang stabil.

- Disadur dari The Geology of Ore Deposits (Guilbert dan Park, 1986) -
- Gambar dari en.wikipedia.org -

Stylolite vs Fracture

Sebulan kemarin ini, saya ikut serta dalam pengukuran rekahan pada batuan inti di daerah Padalarang. Saat kegiatan berlangsung, ada diskusi yang cukup panas di antara dua alumni GEA mengenai stilolit dan rekahan. Alumni yang satu beranggapan bahwa stilolit merupakan produk tekanan (stress) sedangkan alumni yang lain beranggapan bahwa stilolit merupakan produk diaganesa. Yang satu mengatakan stilolit dapat disebabkan tektonik, yang satu lagi bilang tidak. Diskusi ini menarik karena menyentil pemahaman kita mengenai pembentukkan stilolit dan apa yang sebenarnya membedakannya dengan rekahan biasa.

Stilolit, berdasarkan buku Structural Geology oleh Twiss dan Moore (1992), merupakan hasil dari pelarutan yang terjadi selama deformasi pada temperatur rendah. Tucker dalam Sedimentary Petrology (2001) menyebutkan bahwa stilolit terbentuk akibat pressure dissolution, atau pelarutan yang terjadi akibat tekanan pada kontak antar butiran selama kompaksi. Berdasarkan kedua sumber ini, benar bahwa stilolit merupakan produk diagenesa (kompaksi) dan tidak salah bahwa stilolit merupakan produk deformasi.

Stilolit pada sayatan tipis packstone -dari en.wikipedia.org

Alumni Kompak (Untuk alumni penganut diagenetic-product-only stylolite ini kita sebut saja alumni kompak) mengatakan No!
Stress yang disebabkan tektonik, sangat berbeda dengan diagenesa. Diagenesa adalah proses yang dikontrol oleh waktu. Proses burial dalam diagenesa memerlukan waktu yang lama. Berbeda dengan proses tektonik yang cenderung mengakibatkan failure pada batuan secara tiba-tiba. Tektonik, lebih menyebabkan deformasi pada batuan, entah dia secara brittle atau ductile. Ketika batuan mengalami failure, kurva tekanan akan turun mendadak, menyebabkan stress mengecil dan strain (regangan) terus meningkat. Karena itulah proses tektonik lebih cenderung menghasilkan rekahan, atau pada kasus batuan ductile, lipatan. Berbeda dengan stilolit, dimana pressure dissolution memerlukan stress yang konstan dan tidak berubah selama waktu yang lama.

Gambar kurva stress (sumbu y) dan strain (sumbu x). Ketika kurva mencapai titik kekuatan maksimal batuan, garis kurva akan turun dan rekahan akan terbentuk -dari en.wikipedia.org

Alumni stress beranggapan (kita sebut saja alumni yang memegang pendapat stress-derived stylolite ini alumni stress) bahwa stress pada batuan, baik tektonik atau diagenesa (burial), dapat menyebabkan tekanan pada kontak antar butiran yang pada akhirnya menyebabkan pressure dissolution dan membentuk stilolit. Selama ada tekanan pada kontak antar butiran, bukan tidak mungkin stilolit akan terbentuk selama proses tektonik. Pengertian turunnya kurva stress lebih berarti bahwa ketika terjadi deformasi (misal rekahan) dibutuhkan stress yang lebih sedikit untuk menghasilkan strain yang lebih besar, tetapi tidak menunjukkan bahwa proses pemberian tekanan hilang atau berkurang. Karena itu, proses tektonik bisa saja sama konstannya dengan proses burial dan sekali lagi, dapat menyebabkan stilolit.
Diskusi antara kedua alumni ini tidak menemui titik temu. Masing-masing memegang pendapatnya, karena masing-masing telah mempercayai prinsip stilolitnya selama 4 tahun kuliah. Memang tidak mudah mengubah apa yang sudah kita percaya sejak lama. Geologi bukan textbook, dan apa yang terjadi di alam tidak pernah kita ketahui secara pasti, karena kita tidak mudah menemukan prosesnya secara langsung (ada yang pernah melihat pembekuan magma secara langsung?). Stilolit mungkin dapat disebabkan karena tektonik, mungkin juga hanya merupakan hasil diagenesa. Sampai saat ini pun, sejauh pengetahuan saya, belum ada suatu paper yang membahas perbedaan antara stilolit tektonik dan stilolit diagenesa (tolong perbaiki kalau salah).

Sepertinya stilolit ini, sesuai bentuknya, memang bikin pusing.

SEG – MGEI Workshop 2009

Maaf infonya sedikit telat,

Tanggal 11 – 12 Oktober 2009 SEG (Society of Economic Geologist) dan MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia) akan mengadakan kursus dua hari dengan tema GOLD DEPOSITS: NEW DEVELOPMENT AND EXPLORATION di Semarang, Indonesia. Acara ini akan diadakan sebelum konferensi 2009 IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia). Workshop ini akan dipresentasikan dalam bahasa inggris, dan sebelumnya telah diadakan di Beijing, Moskow, Antofagasta, Lima, Cairns dan Cape Town.

Pembicara yang akan hadir dalam workshop ini di antara lain adalah Richard Goldfarb (United States Geological Survey) mengenai Orogenic Gold Deposit, Noel White (Brisbane-Konsultan) mengenai Epithermal gold deposits, Craig Hart (Mineral Deposit Research Unit – University of British Columbia) mengenai Intrusion-related gold deposits dan Steve Garwin (Perth, Konsultan) mengenai Carlin-type gold deposits.

Materi yang akan disampaikan berupa karakteristik geologi dari contoh-contoh endapan-endapan tersebut di dunia, termasuk membahas mengenai tektonik, struktur geologi, ciri geokimia dan geofisika dan metoda eksplorasi.

Harga masuk untuk mahasiswa adalah 30 USD sedangkan untuk tenaga profesional 300 USD  – dari SEG Newsletter -

Geology Student Competition: Internal

GSC

GEA semuanya, akan diadakan Geology Student Competition, atau diterjemahkan menjadi Kompetisi Mahasiswa Geologi, bagi internal GEA. Silakan baca publikasi di atas, klik untuk gambar yang sedikit lebih besar (credit to: Hansen Wijaya).

Info tambahan (yang sepertinya tertutup di gambar di atas):

*Paper
- biaya pendaftaran Rp 20.000,00 / paper
- tema :

1. Sumberdaya Energi
2. Geologi Lingkungan


*Hadiah paper contest & photo contest
Juara II : day pack
Juara III : flash disk

Ayo ikutan semuanya! :)

Bagi-Bagi Cerita Liburan: Dieng

Halo rekan2 GEA sekalian.. Sebelumnya mungkin mau mewakili satu sama lain melalui Suara GEA untuk mengucapkan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadan bagi yang menjalankan =) Dan selamat liburan + mudik sebentar lagi! Jangan lupa bagi yang ada THR (Tugas Hari Raya) segera buat timeline untuk planning bikin tugasnya biar ga numpuk di H-1 :p

Hmm jadi post ini sekedar bagi2 cerita liburan temen2 GEA 07 nih.. Liburannya juga udah lumayan basi yakni liburan Juli kemarin ^^’
Ceritanya libudieng surge 2rannya agak2 geowisata gitu deh..

Jadi kami berdelapan yaitu saya Risa/Sate, Wulan, Rainy, Lely, Resti, Wildan, Fadli/Giring, dan Fitrah liburan kemarin pergi backpacking ke beberapa kota di Jawa Tengah.. (Jujur saja trigger awalnya karena mendengar cerita impulsive backpacking-nya Hanna dan Selly GEA 05 di bus pulang ekskursi sedimen di akhir semester lalu ^^) Trayeknya yaitu: Bandung – Solo – Wonosobo – Dieng – Yogya – Bandung. (Tadinya dari Yogya mau cabs ke Bali sekalian tapi gara2 ada kabar2 Bali siaga flu babi jadinya ga jadi deh. Dan, btw, di Solo kami nginep di rumahnya Brenda lho.)

Mungkin yang mau saya highlight di sini adalah petualangan selama di Diengnya kali ya.. Siapa tau aja ada yg tertarik ke Dieng juga kapan2 =)
Saya sebenarnya termasuk yang pemula banget masalah backpacking2an gini. Jadi mohon maaf klo info yg disampaikan kurang memadai.. Oiya, ada foto2nya di bawahh!

How to get to Dieng from Bandung?

Harusnya bisa sih langsung ke Wonosobo-Dieng naik bus seharga 100ribuan..

Tapi kalau rute kami kmaren: dari Bandung naik kereta ekonomi dari Kiara Condong ke Balapan, Solo (Rp37ribu) (10 jam perjalanan)
Dari situ naik bis ke Wonosobo (Rp15ribu..klo ga salah inget ^^’ ) trus lanjut bus ke Dieng (Rp5ribu) (2,5 jam perjalanan)

*naik keretanya yg malem aja biar ga gerah.. dan biar pasti dapet tempat duduk, naiknya dari stasiun Padalarang aja sekalian. Jadi dari stasiun Bandung ke Padalarang dulu..agak ribet sih..tapi pasti duduk. Klo kemarin tu kita berdelapan cuma dapet 4 kursi, jadi selama 10 jam itu ganti2an deh duduk-berdiri.

Where should we stay in Dieng?

Di motel Bu Jono. Murah, meriah, bersahabat! Semalam cuman Rp150ribuan, dan kemarin karna patungan berdelapan jadi bayarnya seorang cuma Rp32ribu. Pegawai motelnya ada yang berprofesi jadi tour guide juga..(namanya mas Dwi, btw). Jadinya kita gampang koordinasinya klo mau dianterin jalan2 seputar Dieng.

What should we do at Dieng?

Trekking pastinyaa. Dari jam 4 subuh sampe jam 12 siang kita bisa minta dianterin keliling Dieng. (Rp160ribu..klo ga salah inget lagi ^^’)
- Hiking + sunrise-viewing
- Main2 di kebun kentang
- Liat2 kawah sulfur
- Liat2 Telagawarna
- Liat2 candi2

Any other thing we should know upon planning to visit Dieng?

- jgn lupa bawa baju hangaatt! sarung tangan, kaos kaki, jaket tebel, balaclava, dll bcos its so brrrrrrrrr in there. especially before dawn.
- jgn lupa bawa kamera untuk foto2 pemandangan..
- jgn lupa pinjem dan baca2 buku all about Dieng sama2 pegawai di motel Bu Jono.. mereka biasanya nawarin sih, tapi in case mereka lupa, tanya aja =)
- jgn lupa bawa cash yaa. karna di Dieng ga ada ATM dan harus turun ke Wonosobo (30 menitan) klo mau ke atm terdekat.

Happy backpacking! :)

 

March 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031