•  
  •  
  •  

Archive for the ‘Geologi’ Category

Ditemukan Gunung Api bawah laut raksasa di sebelah barat Sumatera…?

Well.. sekedar sharing saja dari hasil searching2 internet dan beberapa milis..

Jadi ceritanya minggu kemarin ada kabar yang cukup besar (setidaknya sampai ke koran :P ) bahwa telah ditemukan sebuah gunung api bawah laut raksasa oleh beberapa peneliti dari CGG Veritas (silakan klik link-nya klo mau tau lebih lanjut ttg CGG Veritas..) di sebelah barat Sumatera. Letaknya kurang lebih 330 km  ke arah barat Bengkulu, terletak di dekat Palung Sunda dengan ketinggian mencapai 4600 meter, diameter 50 km pada kedalaman 5.6-5.9 km dpl (yahh..kurang lebih bayangkan Puncak Jaya dengan diameter yang lebih besar tenggelam di dasar laut..). Bisa dicek gambar daerahnya di bawah, pada bagian yang tertera tulisan “Seamount”

peta-seamountnya
Peta lokasi temuan Seamount baru

Sumber : CGGVeritas.com

Nah..hasil survey menunjukan gunung ini memiliki topografi menyerupai kerucut dan bentuknya seperti kaldera yang luas (You know…caldera means it’s a volcano..). Pertanyaannya adalah, mengingat gunung api ini tidak berada pada volcanic arc seperti halnya gunung2 api umumnya di pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara karena adanya subduksi, berarti kemungkinan yang ada adalah gunung api ini berasal dari Hotspot (spt di Hawaii) atau dari Spreading Centre Volcanism.

Untuk Spreading Center Volcanism pun masih mungkinkah?… mengingat semua jalur2 spreading center sudah dipetakan di bumi dan tidak ada spreading center di daerah Samudera Hindia dekat India – Indonesia (lihat gambar di bawah…sekalian cek ke paman Gugel..CMIIW), maka satu-satunya alasan yang bisa diterima adalah gunung api ini merupakan akibat aktivitas hotspot.

spreading-center

Peta lokasi spreading center di duina
Sumber : Mainee.gov

Hotspot seperti yang kita ketahui, berasal dari proses upwelling pada mantle plume yang materialnya naik ke atas kerak samudera dan kemudian membentuk gunung api. Sifat hotspot itu sendiri adalah basaltik dengan tipe letusan efusif yang hanya akan melelerkan lava.

Hotspot sendiri di muka bumi dari sumber yang didapat, ada 2 contoh (mungkin lebih cocok “kasus” ya ..hehe) yaitu seperti yang di Hawaii dan Christmas Island

Untuk yang di Hawaii, akar dari plume materialnya tidak putus dari pulau-pulau di situ, sehingga membentuk jalur pegunungan seperti yang kita lihat sekarang ini, dimana semakin jauh dari hotspot umurnya semakin tua. Sedangkan di Christmas Island (cek gambar di bawah), hotspot terjadi pada 60 juta tahun yang lalu dan kemudian berhenti karena pipa magmatiknya terputus, sehingga hanya terbentuk satu buah gunung api .

christmasislandarial11

Christmas Island, lokasi di selatan Indonesia, Samudera Hindia

Sumber : foto NASA

Lalu..bagaimana dengan gunung api temuan ini? Pertama perlu dipastikan dulu apakah gundukan ini benar-benar sebuah gunung api atau tidak? Apakah caldera yang dimaksud itu benar-benar sebuah caldera ataukah sebuah guyot? FYI..guyot adalah sebuah bentuk gundukan dengan permukaan atas rata yang terjadi karena erosi oleh air, angin dan proses atmosfir yang menyebabkan sebuah dataran mengalami proses subsidence secara gradual  … dari menjadi  fringed reefed mountain, koral atol dan akhirnya flat topped submerged mountain (buat yang kurang mengerti 3 istilah di samping.. sekali lagi tanya om gugel..saya sendiri  tidak mengerti banyak…OK ? ;) ). Kenampakan guyot sendiri bisa dilihat dari gambar di bawah.

guyot

Kenampakan guyot
Sumber : en.wikipedia.org

Kabar terbarunya, ini memang benar sebuah seamount,bila dilihat dari batimetrinya (sumber : milis IAGI). Mungkin ada yang bisa menceritakan bagaimana mengkaitkan zona batimetri dengan keberadaan sebuah seamount? karena yang saya tulis tepat di atas adalah sebuah sitiran ..hehe

Yang juga jadi pertanyaan. pertama adalah mengapa gunung api (kita asumsikan sekarang bahwa itu benar2  gunung api yang berasal dari hotspot..OK? ) sebesar ini baru ditemukan sekarang? Kemungkinan besar karena daerah ini dari hasil tulisan orang-orang adalah daerah yang memang tidak ada ketertarikan untuk dieksplorasi… Tentu siapa yang mau mengeksplorasi hidrokarbon di daerah aman tentram seperti ini.

Salut untuk tim CGG Veritas yang melakukan survei seismik di lepas pantai Sumatera untuk membuat model geologi guna menambah pemahaman tentang mekanisme terjadinya tsunami. Ibarat sedang mau jalan kaki ke kampus, ketemu uang seratus ribu rupiah di jalan… Hehe.. Setidaknya bisa memperkaya kajian geologi Nusantara kita ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah…lalu…bagaimana bila terjadi fenomena tsunami? Dengan dimensi yang sebesar itu, bisa-bisa satu kota Bengkulu tenggelam betul…? Well…just no need to be worry…kurang lebih seperti itu yang disampaikan dari  Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI, Hery Harjono. Dia menyampaikan 2 hal : jenis magma penyusun gunung api ini tidak akan menyebabkan ledakan, serta sumber dari magmanya pun telah dijauhi, seperti halnya yang berada di Christmas Island. Jadi tidak perlu ada kekuatiran gunung api ini akan meletus, jaminnya. Namun siapa yang tahu? Bumi itu dinamis …., benar Jendral?

Sumber : milis IAGI, CGG Veritas dan berbagai sumber

Credit to : Bpk. Awang Satyana, Bpk. Rovicky dan rekan2 dari milis IAGI

Persiapan Ekskursi Sedimentologi

Bagi-bagi catatan tadi pagi…

Ekskursi sedimentologi, tujuan ke Jonggol. Jadwal, Sabtu, 30 Mei 2009. Berangkat dari Kampus ITB jam 6 pagi. Di bawah ini ada catatan dari briefing Jumat siang. Read more »

Ekskursi Petrologi 2009

Pada hari Minggu tanggal 17 dan 24 Mei 2009, M.K. Petrologi (GL-2042) mengadakan ekskursi ke daerah Padalarang.

Dosen yang ikut adalah tentu saja dosen legendaris kita yang namanya sudah diabadikan di salah satu lagu Musang, Prof. Dr. Emmy Suparka.

bu emmy

Ekskursi ini dibagi menjadi dua shift agar pesertanya lebih sedikit hingga penyampaian materi dapat lebih efektif.

Eksursi ini melibatkan banyak anggota GEA sebagai peserta maupun asisten.

Di bawah ini adalah kronologi dari ekskursi tgl 17 Mei (shift I).

06.00 – 07.30    : Apel pagi; pembagian peralatan kelompok yakni palu, kompas, dan HCl. Di utara gedung program studi.

07.30 – 08.30    : Perjalanan ke Padalarang

petro bis

09.00 – 11.00    : Lokasi 1.A. – Pasir Tanggulun; lokasi 1.B. – Pasir Tanggulun; lokasi 1.C. – Pasir Bende;

petro 1

11.00 – 13.00    : Lokasi 2 – Sungai Cibogo

petro sungai

13.00 – 14.30    : Isoma. Di SPBU terdekat.

15.00 – 16.00    : Lokasi 3 – Gua Pawon

petro pawon

16.00 – 18.00    : Lokasi 4 – Stone Garden

Ada alumni GEA yang mau berbagi kisah ekskursi Petrologi di masanya? Atau berbagi tips and tricks untuk ekskursi-ekskursi lainnya? Ditunggu, ya, tulisannya =)

Flysch

Flysch adalah sekuen batuan sedimen yang terdeposisi di fasies laut dalam di foreland basin dari pertumbuhan orogen. Flysch pada umumnya terdeposisi pada tahap awal orogenesis. Saat orogen sudah berkembang, foreland basin akan semakin dangkal dan molasse (sandstone, conglomerate, shales yang terbentuk di terrestrial atau laut dangkal yang terdeposisi diatas rantai pegunungan) terdeposit di bagian atas flysch. Terkadang dinamakan syn-orogenic sediment, yaitu sedimen yang terdeposit secara serentak pada pembentukan pegunungan.

796px-carpathian_flysch_cm03

Sedimentologi

Flysch merupakan sekuen sedimen yang cenderung upwards fining (menghalus ke atas). Biasanya pada bagian dasar terdapat conglomerate, yang akan secara gradual menghalus ke atas menjadi sandstone dan shale/claystone. Pada sekuen ini shale tidak terlalu banyak terdapat fosil, dan sandstone sering memiliki fraksi mika dan glaukonit.
Flysch terbentuk pada lingkungan laut dalam, kondisi tenang dan linkungan dengan energi deposisi yang rendah. Pengecualian dari bagian kasar pada sekuen (conglomerate), merupakan endapan mass transport/turbidite yang disebabkan oleh orogenesa

Tektonik

Flysch biasa terbentuk di zona subduksi pada tahap continental collision.

Sumber : The Penguin Dictionary of Geology (D.G.A Whitten & J.R.V. Brooks), en.wikipedia.org/wiki/Flysch

Soil: Deskripsi Horizon dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukannya

Sharing lagii. Kali ini tentang SOIL. Tapi, lebih dari sisi geologi fisiknya dibanding geokimianya. Buat yang lagi ngambil geokimia soil, mungkin ini bisa dijadikan basic knowledge ajaa..dibaca-baca sambil minum teh di pagi hari. Hoho ^^’

Credit: Physical Geology (Twelfth Edition) by C. Plummer and D. Carlson

SOIL

Penggunaan istilah soil secara awam mengarah kepada sebutan untuk material lepas dan tak terkonsolidasi yang menutupi hampir seluruh permukaan daratan. Namun demikian, ahli geologi mengistilahkan regolith untuk definisi di atas dan kemudian mengistilahkan soil untuk lapisan material lapuk dan tak terkonsolidasi yang mengandung bahan-bahan organik dan mampu mendukung hidup tumbuhan. Soil yang matang dan subur merupakan hasil dari berabad-abad pelapukan batuan, dikombinasikan dengan pembusukan tumbuhan dan bahan organik lainnya. Untuk kajian sistem Bumi, soil memiliki peranan penting dalam interaksi antara bagian Bumi yang padat (geosfer), biosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Soil adalah sumber daya penting bagi kelangsungan hidup di Bumi.

Rata-rata soil mengandung 45% batuan dan pecahan mineral (termasuk lempung), 5%
humus, dan 50% rongga pori. Batuan dan pecahan mineral pada soil menjadi tempat ‘berlabuh’ bagi akar tumbuhan. Mineral lempung menyerap air dan ion nutrien yang nantinya akan diserap akar tumbuhan. Humus melepaskan asam lemah yang membantu proses pelapukan kimawi. Humus juga menghasilkan nutrisi bagi tumbuhan dan meningkatkan kemampuan menahan air dari soil. Rongga pori adalah komponen penting yang terakhir dari soil. Air dan udara bersirkulasi melalui rongga pori, membawa serta nutrien terlarut dan CO2 yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan.

Ukuran dan jumlah dari rongga pori pada soil, oleh karena itu juga kemampuan soil untuk menyalurkan udara dan air, sebagian besar merupakan fungsi dari tekstur soil. Tekstur soil mengacu pada proporsi antara partikel-partikel yang berbeda ukuran, umumnya mengacu pada pasir, lanau, dan lempung. Kuarsa umumnya lapuk menjadi butiran berukuran pasir yang membantu soil tetap lepas-lepas dan teraerasi, memudahkan drainase (lewatnya) air. Kristal feldspar dan mineral lainnya yang setengah lapuk juga dapat menghasilkan butiran berukuran pasir. Namun, soil dengan terlalu banyak kandungan butiran berukuran pasir akan melewatkan air terlalu cepat dan tumbuhan akan kekurangan air.

Read more »

Batuan Metamorf

Sedikit esai tentang batuan metamorf yang diterjemahkan dan diringkas dari buku Physical Geology (Twelfth Edition) yang ditulis oleh C. Plummer dan D. Carlson dan diterbitkan pada tahun 2007. (By the way, saya sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu geologi secara umum. Terutama yang masih awam akan ilmu geologi karena didukung oleh gambar-gambar yang memudahkan kita dalam memvisualisasikan penjelasannya dan bahasanya mudah dicerna.) Semoga dapat bermanfaat ya =)

BATUAN METAMORF

PENDAHULUAN

Siklus batuan menunjukkan kemungkinan batuan untuk berubah bentuk. Batuan yang terkubur sangat dalam mengalami perubahan tekanan dan temperatur. Jika mencapai suhu tertentu, batuan tersebut akan melebur menjadi magma. Namun, saat belum mencapai titik peleburan kembali menjadi magma, apa yang terjadi pada batuan tersebut? Batuan tersebut berubah menjadi batuan metamorf.

Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami proses metamorfosis. Proses metamorfosis terjadi hanya di dalam Bumi. Proses tersebut mengubah tekstur asal batuan, susunan mineral batuan, atau keduanya. Proses ini terjadi dalam solid state, artinya, batuan tersebut tidak melebur. Bayangkan sebuah roti yang berubah menjadi roti bakar. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa fluida – terutama air – memiliki peranan penting dalam proses metamorfosis.

Batugamping termetamorfosis menjadi marmer.

Butiran halus kalsit pada batugamping terekristalisasi menjadi butiran besar. Perubahan yang terjadi hanya pada teksturnya.

Serpih termetamorfosis menjadi mika berbutir besar.

Mineral lempung pada serpih tidak stabil pada temperatur tinggi. Perubahan yang terjadi, selain teksturnya, juga mencakup pembentukan mineral baru.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK BATUAN METAMORF

1. Komposisi Mineral Batuan Asal

2. Temperatur dan Tekanan Selama Metamorfosis

3. Pengaruh Gaya Tektonik

4. Pengaruh Fluida
Read more »

 

July 2010
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031