•  
  •  
  •  

Archive for the ‘Share the Story’ Category

GEA NITE

23 April 2010, para alumnus HMTG “GEA” ITB mengadakan suatu acara konsolidasi yang bertajuk GEA Nite, acara ini bertujuan sebagai ajang silaturahmi dan sarana pemilihan ketua Ikatan Alumni (IA) Teknik Geologi ITB yang baru. Acara ini mengambil setting tempat di Pondok Indah Golf Apartment dikarenakan salah satu rangkaian acara dari GEA Nite ini adalah kompetisi golf yang tujuan utamanya untuk menggalang dana. Konsep acara ini sebenarnya tidak terlalu formal, susunan acaranya pun sebagian besar bersifat hiburan yang diisi oleh MUSANG dari generasi sekarang dan MUSANG original angkatan 80-an (yang kebanyakan memang lagu-lagu GEA merupakan ciptaan mereka), para audience hanyut dalam iringan musik modern dan klasik sambil menyuarakan lirik MUSANG yang “nyentil sana dan sini. . .”. Hiburan selanjutnya yang juga merupakan rangkaian dari acara ini adalah hadirnya grup band SECOND BORN yang dapat mengobati kerinduan para alumni akan musik-musik lawas.
Selain berbagai acara yang bersifat hiburan tersebut, ada beberapa sambutan yang cukup penting dari ketua acara GEA Nite dan Bpk. Agus H. yang mengatakan bahwa akan ada proses pencairan HMTG “GEA” ITB dalam waktu dekat dan hal ini jelas menyejukkan telinga para GEA yang hadir pada saat itu.

Pelayaran Kebangsaan Ilmuwan Muda (PKIM) 2010

Beruntung dan gembira, itulah perasaan yang saya rasakan ketika mendapat kabar bahwa saya berkesempatan untuk ikut dalam Pelayaran Kebangsaan Ilmuwan Muda (PKIM) 2010. Kegiatan ini diadakan atas prakarsa LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional.

April 2010 lalu, saya (Brenda GL’07) dan Kevin (GL’05) berkesempatan untuk turut serta dalam kapal riset Baruna Jaya VIII untuk melakukan penelitian kondisi perairan di sekitar Bangka Belitung. Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, Suharsono, menambahkan bahwa para peserta terdiri atas peneliti dari kalangan dosen muda dan mahasiswa tingkat akhir yang melakukan tugas akhir. Mereka berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro, Universitas Syah Kuala, Universitas Patimura, Universitas Hasanuddin, Universitas Mulawarman, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Peserta PKIM terbagi dalam 2 kelompok besar yaitu kelompok biologi dan oseanografi. Saya dan Kevin tergabung dalam kelompok oseanografi. Kelompok pertama yaitu biologi berangkat dari Muara Baru, Jakarta, menuju daerah penelitian dengan berlayar menggunakan Baruna Jaya VIII pada tgl 4 April 2010 setelah mendapat pengayaan materi di Jakarta. Sedangkan kelompok oseanografi, berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat terbang pada tanggal 8 April 2010. Sesampainya di Pulau Belitung, kami diajak berkunjung ke salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi, yaitu di Pantai Tanjung Tinggi. Kami disambut oleh hamparan pasir pantai yang putih, deburan ombak yang menghantam pantai, serta ciri khas pantai ini, yaitu bongkahan-bongkahan batuan granit beraneka ukuran yang terhampar luas di sekitar pantai. Setelah puas mengambil gambar, kami kemudian diantar menuju rumah dari Bu Muslimah, tokoh panutan dalam serial Laskar Pelangi sebelum ke penginapan kami di Hotel Martani, Belitong.

Setelah mendapatkan pengayaan materi tentang apa yang akan dilakukan kelompok kami, keesokan harinya kami berangkat menuju dermaga pelepasan Baruna Jaya VIII. Kelompok biologi telah tiba sehari sebelumnya dan setelah menyelesaikan laporan penelitian mereka, mereka akan diterbangkan pulang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat karena kapal Baruna Jaya VIII akan kami gunakan. Pada acara pelepasan yang dihadiri pejabat LIPI, DIKTI, Wakil Gubernur Prov. Babel, dan segenap tokoh masyarakat, hadir pula para pemeran di film Laskar Pelangi. Sebut saja Ical, Lintang, Harun, dan kawan-kawan lain.

Kemudian dimulailah hari pertama pelayaran. Kami mendapat arahan keselamatan dan kegiatan selama pelayaran. Tiga jam setelah berlayar, kami pun tiba di stasiun pertama. Kelompok Geologi dibimbing oleh Bapak Helfinalis, peneliti Geologi Laut dari P2O LIPI. Tim-tim lain juga mendapat pembimbing lain sesuai bidang keahlian masing-masing. Sedikit gambaran tentang apa saja yang dilakukan semua tim peneliti dengan latar yang berbeda. Setelah kami tiba di stasiun tertentu, semua tim akan mengambil posisinya di atas kapal. Sebuah alat yang dinamakan CTD akan diturunkan ke bawah laut untuk mengambil data salinitas, arah arus, temperatur, dan juga pengambilan sampel air laut pada kedalaman yang berbeda. Begitu alat ini dinaikkan, semua tim pun berbagi jatah. Tim logam berat, kimia hara, biologi, dan juga geologi mengambil contoh air dari berbagai kedalaman untuk dianalisis. Setelah CTD selesai digunakan, giliran tim plankton yang menurunkan jaring plankton Kitahara untuk pengambilan sampel plankton. Terakhir, giliran tim geologi kembali bekerja menggunakan gravity core untuk mengambil contoh sampel sedimen laut. Semua pekerjaan ini harus dilakukan sesuai urutan yang telah ditetapkan agar tidak ter jadi kontaminasi pada sampel. Contohnya, jika gravity core dilakukan terlebih dahulu sebelum CTD dan Kitahara, tentu saja air sekitar akan menjadi keruh dan mengkontaminasi sampel lainnya. Seperti biasa, core tersebut lalu dideskripsi untuk keperluan rekonstruksi bawah laut. Adapun analisis TSS (Total Suspended Solid) akan dilakukan setibanya di Jakarta di Lab Geologi Laut P20 LIPI.

Selama di kapal, kami belajar banyak hal yang sebelumnya belum kami ketahui. Misalnya apa saja yang dilakukan ahli geologi kelautan dan juga bagaimana ilmu geologi yang kami punya dapat membantu bidang keilmuan lain seperti biologi, fisika, plankton, kimia hara, dan kimia logam memahami kondisi perairan sekitar dan juga bagaimana kami menggunakan data yang mereka peroleh untuk mendukung analisis geologi yang kami buat. Misalnya, ketika terjadi perubahan arus laut atau kecepatan yang didapat oleh kelompok fisika, sebagai geologis maka kami akan diminta memberikan gambaran batimetri bawah laut untuk menjelaskan penyebab dari perubahan tersebut. Begitu juga dengan kelompok plankton ketika mendapat adanya kelimpahan plank ton yang tidak biasanya, maka mereka akan meminta masukan dari kelompok fisika dan geologi. Sebaliknya untuk geologi, kami dapat menggunakan data yang dimiliki oleh kelompok logam berat untuk membuat peta persebaran logam berat yang dibawa oleh sedimen dari daratan hasil pertambangan.

Kegiatan pengambilan sampel dilakukan dari pagi sekitar pukul delapan hingga pukul sembilan malam dengan total stasiun setiap harinya antara 6-7 buah. Antara satu stasiun ke stasiun lainnya biasanya ditempuh dalam 2-3 jam. Di antara waktu itu, semua tim melakukan kegiatan masing-masing tim, mulai dari preparasi sampel oleh kelompok biologi dan plankton, maupun destilasi oleh kelompok kimia hara dan logam berat. Hanya kelompok geologi yang tidak melakukan preparasi pada saat itu. Tetapi ketika kelompok lain telah kembali ke dalam kapal yang full AC, kelompok geologi masih berada di luar (dengan cuaca panas menyengat) untuk menunggu pengambilan core, mendeskripsi, dan membersihkan pipanya. Malam harinya, setelah stasiun terakhir telah selesai, kapal akan kembali mengitari rute yang dilalui sebelumnya untuk melakukan pengukuran batimetri multi sonar.

Tim Geologi PKIM 2010

Hidup bersama di kapal juga merupakan suatu pengalaman yang kami syukuri. Tidak pernah terbayang bahwa kami akan menghabiskan hampir 5 hari penuh berada di atas kapal. Semua kegiatan kami lakukan di atas kapal, mulai dari makan, minum, mandi, hingga tidur. Jangan dibayangkan bahwa kondisi Baruna Jaya VIII menakutkan. Sebaliknya, kapal ini sangat nyaman ditempati, bahkan seperti hotel berbintang. Kami dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari empat perserta dalam satu kamar tidur. Kapal ini juga dilengkapi kamar mandi berpemanas air, ruang dapur, ruang makan dengan makanan yang selalu tersedia setiap saat dalam jumlah yang sangat banyak, ruang rekreasi (biasa kami gunakan untuk mengerjakan laporan, berbincang, menonton film, mendengarkan musik, dan tentu saja tidur), serta laboratorium. Setelah semua stasiun telah dijelajahi, tibalah saatnya kami untuk kembali keesokan harinya. Malam itu, kami semua diminta untuk bersenang-senang dan berkaraoke bersama di ruang makan. Keesokan harinya, kapal pun kembali berlabuh di Pelabuhan Perikanan Muara Baru Dermaga Barat, Jakarta Utara. Setibanya di Jakarta, kami pun dijemput bus yang disiapkan panitia dan diantar berkunjung ke P2O LIPI di daerah Ancol, Jakarta Utara. Dari sana, kami lalu diantar kembali ke hotel Bintang di Jalan Raden Saleh untuk menyelesaikan leporan penelitian sebelum kepulangan kami keesokan harinya.

Profil Singkat Baruna Jaya VIII

Baruna Jaya (BJ) VIII adalah sebuah kapal riset paling mutakhir dengan jenis Multi Purpose Research Vessel yang dimiliki oleh Indonesia. Kapal penelitian laut yang dibuat di Kota Bergen, Norwegia, ini dibuat tahun 1997-1998 dan mulai diluncurkan 24 Mei 1998. Kapal Baruna Jaya diserahterimakan kepada Oseanografi-LIPI pada 27 Agustus 1998. Kapal ini tiba di Jakarta tanggal 27 Oktober 1998 yang dinahkodai oleh Kapten Daniel Irham. Perjalanan antara Norwegia-Indonesia ditempuh dalam waktu 2 bulan penuh. BJ VIII dilengkapi dengan berbagai macam peralatan untuk penelitian di laut lepas, baik di luar (dek) maupun di dalam kapal. Di luar kapal terdapat peralatan antara lain berupa CTD, jaring Kitahara, gravity core, dan sebagainya. Sedangkan di dalam terdapat beberapa laboratorium seperti laboratorium biologi, mikrobiologi, dan kimia. Hanya para teknisi kapal handal yang diijinkan untuk mengoperasikan peralatan di kapal ini.

Kapal BJ VIII layaknya sebuah hotel berbintang di atas laut. Hal ini disebabkan oleh lengkapnya sarana dan prasarana yang ada di dalamnya. Kamar tidur dilengkapi dengan pendingin udara, bunkbed, lemari, dan wastafel. Kamar mandinya memiliki sistem pemanas air. Terdapat ruangan untuk mencuci pakaian yang memuat 4 mesin cuci dan pengering. Dapur dan ruang makan di tingkat atas juga selalu menyediakan sarapan, makan siang, santapan sore, makan malam, supper, dan hidangan malam setiap hari tanpa henti. Kualitas dan kuantitas masakan tidak perlu disangsikan lagi, lezat dan sangat banyak. Ruang harian dilengkapi dengan televisi layar lebar. Tentu saja seluruh ruangan di kapal ini dilengkapi dengan pendingin udara.

Nama Instruktur dan Kapten Kapal

1.  Irham Daniel-Kapten Kapal Riset Baruna Jaya VIII

2.  Drs. Helfinalis, M.Sc.-Instruktur bidang penelitian Geologi

3.  Ir. Tumpak Sidabutar, M.Sc.-Instruktur bidang penelitian Plankton

4.  Drs. Hadikusumah-Instruktur bidang penelitian Fisika

5.  Zainal Arifin, Ph.D.-Instruktur bidang penelitian Logam Berat

6.  Prof. Drs. Ruyitno Nuchsin, M.Sc.-Instruktur bidang penelitian Mikrobiologi

7.  Drs. Muswerry Muchtar, M.Sc. APU-Instruktur bidang penelitian Kimia Hara

Semoga pengalaman saya bisa menginspirasi kalian semua. Harapannya tentu tahun depan tetap ada peserta PKIM dari Teknik Geologi ITB. Dijamin, ini pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan. Kapan lagi bisa mengaplikasikan ilmu di laut (secara selama ini kita di darat terus kerjanya), dapat teman baru, dan tentu naik kapal penelitian tercanggih di Indonesia. Jika ingin bertanya, kontak saja saya, Pak Bambang, atau Ibu Suryantini (beliau pernah ikut kegiatan ini). Terima kasih..

NB:

1. Foto dilihat di facebook Brenda atau Kevin saja ya :)

2. Paper hasil penelitian bisa minta ke Brenda kalau mau baca-baca

It’s also geologists’ duty to explore and protect Indonesia’s sea

7 GEA hadir di SEG-MGEI Gold Deposit Workshop di UGM, Yogyakarta

“Setelah GSC selanjutnya, piala itu kan berlabuh di himpunan GEA”, kata GEA. “Tapi kita tak kan datang jauh-jauh ke Bandung sebagai pengantar piala ini”, sahut HMTG UGM. “Well, let’s see…”, tantang GEA

Rabu, 7 Oktober 2009, 7 orang GEA (Aurio Erdi, Resti Samyati, Eko Suwarno, Dewi Prihatini, Hardika Nugraha, Wildan Mussofan, Albert Julian Gurning)berangkat dari Stasiun Kiara Condong naik kereta api ekonomi pada jam 20.30 menuju ke arah Jogja. Di hari-hari sebelumnya, 7 orang ini memadatkan jadwal praktikumnya, agar di hari Kamis dan Jumatnya bisa tenang menghadiri sebuah acara yang digelar di Gedung TU Fakultas Teknik UGM. Tak heran, jika wajah-wajah mereka ketika di kereta  begitu kusam, kucel, kelelahan setelah berurusan dengan tugas dan praktikum yang padat.

Kamis pagi, 06.10 waktu setempat, mereka tiba di Jogja, bermodalkan gambar print screen dari Google Earth, mereka menuju ke Hotel Terban, di jalan C. Simanjuntak, Jogjakarta. Selain dekat dengan UGM, harga sewa per malamnya yang di bawah Rp 30.000 menjadi alasan bagi mereka tuk menginap di sana.

Pukul 8.45, akhirnya sampai di Gedung yang dimaksud, walau sempat tersesat di UGM yang lumayan luas. Telat 15 menit dari jadwal, mereka bergegas registrasi dan duduk di kursi yang telah disediakan. Di akhir acara, banyak dari GEA yang berkenalan, beramah tamah dengan HMTG Teknik Geologi UGM. Dan GEA pun diantar pulang Hotel Terban oleh mereka.

Dari kiri ke kanan, Aurio Erdi, Resti Samyati, Craig Hart, Hardika Nugraha, Dewi Prihatini, dan Albert Julian G (2 GEA lainny sedang beli tiket pulan!)

Dari kiri ke kanan, Aurio Erdi, Resti Samyati, Craig Hart, Hardika Nugraha, Dewi Prihatini, dan Albert Julian G (2 GEA lainnya sedang beli tiket pulang!)

Acara di Gold Deposit Workshop ini berlangsung selama 2 hari. 7 GEA nampak antusias menghadiri acara ini, walau seringkali tampak dari raut wajauhnya kerutan kening, tanda tak paham. Maklumlah, selain kendala bahasa inggris, GEA-GEA yang berangkat adalah GEA 2007 yang baru saja mendapat mata kuliah Endapan Mineral pada semester ini (materi terakhirnya baru Pegmatit).

Tak bisa dipungkiri, bukan hanya Gold Deposit saja ilmu yang mereka dapat. HMTG Teknik Geologi UGM banyak menginspirasi mereka. Walau sama-sama berada di tingkat 3, nampaknya pengalaman dan pengetahuan mereka tentang geologi sedikit lebih banyak dari pada GEA. Tersadar akan hal ini, 7 GEA tersebut bersemangat tuk belajar jauh lebih keras, agar dapat mengharumkan nama GEA dan ITB. Lebih-lebih bila melihat piala bergilir GSC yang dipajang rapi bersama piala-piala lain yang ukurannya lebih kecil dari piala GSC.

Piala bergilir GSC, semangat Brur, tahun depan, milik kita!

Piala bergilir GSC, semangat Brur, tahun depan, milik kita!

Malam di hari yang sama, peserta telah mendaftar SEG Student Member diajak untuk mentoring di restoran Pondok cabe yang dekat dengan Hotel Terban tempat mereka menginap. 7 orang GEA yang telah formulir registrasi Student Member SEG kompak menghadiri jamuan makan malam tersebut. Selain berdiskusi dengan Steve Garwin (pengisi materi tentang Porphiry Au Deposits) mengenai materi yang tadi ia sampaikan, ada juga diskusi tentang membangun SEG Student Chapter (semoga saja bisa segera terlaksana, walau sebenarnya ada kendala di Faculty Advisory). GEA yang lain juga menyempatkan ngobrol dengan rekan lamanya di SMA dan ada juga GEA yang masih berbincang ramah dengan salah seorang HMTG UGM.

Tak terasa, tiba-tiba sudah hari Sabtu, 7 GEA harus balik ke Bandung untuk segera menyelesaikan tugas-tugas mereka yang tertunda. Maaf, belum bisa cerita banyak tentang Gold Depositnya, tapi sesegera mungkin, mereka akan mempresentasikan apa yang mereka dapat (baca: paham) di Workshop kemarin. Banyak kenangan, banyak cerita dari Jogja. Tak hanya tentang Gold Deposits, di angkringan bersama HTMG UGM sambil ngopi joss, jalan miring karena hati tak lurus (katanya!) ketika mencoba berjalan di antara dua pohon besar di alun-alun selatan Jogja, inggris super kacau ketika ngobrol dengan Pak Steve, cinta lokasi GEA wati dengan HMTG UGM wan akibat dibonceng pulang dan karena sering ngobrol berdua, bersepeda tua berangkat ke UGM (freak, dilihatin orang satu fakultas! Harusnya lepas jakun dulu…), jalan-jalan di Malioboro, dan masih banyak kejadian lainnya mewarnai indahnya cerita mereka di Jogja kemarin. Sampai jumpa Jogja!!

Bersepeda keliling Jogja, selain mereka gunakan untuk beli oleh-oleh, sepeda ini juga yang mengantar mereka tiba di kampus teknik UGM

Bersepeda keliling Jogja, selain mereka gunakan untuk beli oleh-oleh, sepeda ini juga yang mengantar mereka tiba di kampus teknik UGM

Bagi-Bagi Cerita Liburan: Dieng

Halo rekan2 GEA sekalian.. Sebelumnya mungkin mau mewakili satu sama lain melalui Suara GEA untuk mengucapkan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadan bagi yang menjalankan =) Dan selamat liburan + mudik sebentar lagi! Jangan lupa bagi yang ada THR (Tugas Hari Raya) segera buat timeline untuk planning bikin tugasnya biar ga numpuk di H-1 :p

Hmm jadi post ini sekedar bagi2 cerita liburan temen2 GEA 07 nih.. Liburannya juga udah lumayan basi yakni liburan Juli kemarin ^^’
Ceritanya libudieng surge 2rannya agak2 geowisata gitu deh..

Jadi kami berdelapan yaitu saya Risa/Sate, Wulan, Rainy, Lely, Resti, Wildan, Fadli/Giring, dan Fitrah liburan kemarin pergi backpacking ke beberapa kota di Jawa Tengah.. (Jujur saja trigger awalnya karena mendengar cerita impulsive backpacking-nya Hanna dan Selly GEA 05 di bus pulang ekskursi sedimen di akhir semester lalu ^^) Trayeknya yaitu: Bandung – Solo – Wonosobo – Dieng – Yogya – Bandung. (Tadinya dari Yogya mau cabs ke Bali sekalian tapi gara2 ada kabar2 Bali siaga flu babi jadinya ga jadi deh. Dan, btw, di Solo kami nginep di rumahnya Brenda lho.)

Mungkin yang mau saya highlight di sini adalah petualangan selama di Diengnya kali ya.. Siapa tau aja ada yg tertarik ke Dieng juga kapan2 =)
Saya sebenarnya termasuk yang pemula banget masalah backpacking2an gini. Jadi mohon maaf klo info yg disampaikan kurang memadai.. Oiya, ada foto2nya di bawahh!

How to get to Dieng from Bandung?

Harusnya bisa sih langsung ke Wonosobo-Dieng naik bus seharga 100ribuan..

Tapi kalau rute kami kmaren: dari Bandung naik kereta ekonomi dari Kiara Condong ke Balapan, Solo (Rp37ribu) (10 jam perjalanan)
Dari situ naik bis ke Wonosobo (Rp15ribu..klo ga salah inget ^^’ ) trus lanjut bus ke Dieng (Rp5ribu) (2,5 jam perjalanan)

*naik keretanya yg malem aja biar ga gerah.. dan biar pasti dapet tempat duduk, naiknya dari stasiun Padalarang aja sekalian. Jadi dari stasiun Bandung ke Padalarang dulu..agak ribet sih..tapi pasti duduk. Klo kemarin tu kita berdelapan cuma dapet 4 kursi, jadi selama 10 jam itu ganti2an deh duduk-berdiri.

Where should we stay in Dieng?

Di motel Bu Jono. Murah, meriah, bersahabat! Semalam cuman Rp150ribuan, dan kemarin karna patungan berdelapan jadi bayarnya seorang cuma Rp32ribu. Pegawai motelnya ada yang berprofesi jadi tour guide juga..(namanya mas Dwi, btw). Jadinya kita gampang koordinasinya klo mau dianterin jalan2 seputar Dieng.

What should we do at Dieng?

Trekking pastinyaa. Dari jam 4 subuh sampe jam 12 siang kita bisa minta dianterin keliling Dieng. (Rp160ribu..klo ga salah inget lagi ^^’)
- Hiking + sunrise-viewing
- Main2 di kebun kentang
- Liat2 kawah sulfur
- Liat2 Telagawarna
- Liat2 candi2

Any other thing we should know upon planning to visit Dieng?

- jgn lupa bawa baju hangaatt! sarung tangan, kaos kaki, jaket tebel, balaclava, dll bcos its so brrrrrrrrr in there. especially before dawn.
- jgn lupa bawa kamera untuk foto2 pemandangan..
- jgn lupa pinjem dan baca2 buku all about Dieng sama2 pegawai di motel Bu Jono.. mereka biasanya nawarin sih, tapi in case mereka lupa, tanya aja =)
- jgn lupa bawa cash yaa. karna di Dieng ga ada ATM dan harus turun ke Wonosobo (30 menitan) klo mau ke atm terdekat.

Happy backpacking! :)

Innalillahi wainaillahi rojiun – Selamat Jalan Yogie

Yogie,
semoga dirimu diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
semoga diampuni dosa-dosamu dan diterima amal baikmu.
semoga keluarga dan teman-teman mu tabah, diberikan kesabaran, dan kekuatan.
semoga teman-temanmu bisa melanjutkan cita-citamu.

hari ini indonesia dan geologi kehilangan satu putra terbaik bangsa, semoga hari ini jugalah muncul seribu Yogie-Yogie yang baru.
hari ini GEA kehilangan salah seorang dari teman berhimpunnya, semoga semangat yogi tetap hidup dan terpatri di hati kita semua, semoga semangat kebersamaan teman-teman tidak pernah hilang.

Innalillahi wainaillahi rojiun – Selamat Jalan Yogie.

SURVEY CILETUH 3-6 June 09

Redaksi:
Berikut adalah cerita Fikri ‘Padank’ Yunus tentang survey ke Ciletuh untuk ekspedisi GEA bulan Agustus nanti. Ekspedisi ini merupakan kerjasama antara AAPG dan Divisi Keprofesian GEA (dalam hal ini subdivisi Geologi Lapangan yang paling punya acara).

Untuk para GEA, mungkin catatan harian Padank ini bisa dijadikan referensi sebelum berangkat bulan Agustus. Bacanya aja udah berasa seru. Yah, hitung-hitung teaser, lah yah :)

Untuk Padank, makasih sudah mau berbagi :)

02


Selasa (02/06/09),
Aldyth (Ketua Ekspedisi Ciletuh) bangun2 langsung inget kl Rabu ada survey Ciletuh. Tanpa mandi langsung ngeprint peta sama beli pil Kina (obat anti malaria). Siangnya langsung diadakan briefing singkat dibawah komando Bagas (Bastian Ganteng Sekali) si ketua AAPG di Klompe untuk membahas persiapan dan rute survey (termasuk transport). Langsung saja holosen (aka Aditya Prasetya) sebagai dan logistik  kaderisasi diangkat sebagai ketua logistik survey (sekalian pelatihan bwt tar kaderisasi :D ) dan Ajat sebagai ketua lapangan. Awalnya terkendala masalah transport, harusnya si kotak (aka Manda GEA ‘07) ikut survey dan menyediakan transport. Namun sayang, tiba2 dia jatuh sakit (cepet sembuh yaa man) jadi gagal ikut survey. Lalu Aldyth memutuskan tetap berangkat dengan angkutan umum :( .

Sorenya langsung persiapin logistik (peta, kompas, palu, makanan, rokok, tenda, dan peralatan lapangan lainnya.) Sayang sore itu hujan, terpaksa holosen harus bekerja lembur sampai malam (holosen emang dewa). Awalnya ada 8 orang yang ikut survey (Aldyth, Roy, Padanx, Dipokuda, holosen, Ajat, Bagas dan Gofur), sayang Gofur harus ngerjain sedimen (sayang sekali), jadi yang berangkat cuma 7 orang.

01

Rabu (03/06/09),
sesuai hasil briefing hari selasa, dputuskan kita berangkat jam 07.00WIB. Lagi2 ngaret karena gw ktiduran (baru bangun jm setengah 7, hehehe sori boy). Akhirnya berangkat jam8 pagi menuju Leuwi Panjang. Setiba di Leuwi Panjang langsung naik bus ke Sukabumi. Sampe di Sukabumi jam 13.00. Langsung disambung dgn bus ke Pelabuhan Ratu. Sampe di Pelabuhan Ratu jam 16.00.

Sayang sekali, setiba di Pelabuhan Ratu, Elf  ke Ciwaru sudah nggak ada lg (terakhir jm 15.00). Akhirnya istirahat dan makan dulu di Pelabuhan Ratu sekalian sewa angkot. Setelah dapet sewa angkot, langsung berangkat ke Desa Ciwaru (daerah Palangpang). Buseeeet… jalannya jeleeeek bangeeeeettttt…. sampe bumper angkotnya hancur :( Terpaksa kami melebihkan biaya sewa angkot bwt bantu2 biaya bnerin bumper angkot (kasian sopir angkotnya brur). Read more »

 

July 2010
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031