Geohumanism: Pemetaan Hidrogeologi Desa Gn Masigit Padalarang
Minggu, 10 Januari 2010, tak kurang dari 85 warga Gn Desa Masigit antusias datang pada acara seminar bertajuk “Air Tanah Untuk Padalarang”. Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Geohumanism yang dipimpin oleh Dhani Triamindo (GEA 06). Dibuka pada pukul 13.30 waktu setempat, Dhani dalam sambutannya sebagai ketua acara mengemukakan bahwa acara ini bagian dari pengabdian masyarakat yang terselenggara atas kerja sama antara mahasiswa dan dosen Program Studi Teknik Geologi.

Pak Budi Brahmantyo hadir sebagai pembicara utama. Topik yang beliau sampaikan adalah pengenalan air tanah dan karst. Warga nampak senang diperlihatkan Pak Budi beberapa keajaiban morfologi bentukan pelarutan batugamping yang ada di sekitar Padalarang. Warga juga disadarkan Pak Budi betapa pentingnya menjaga karst-karst tersebut dari pertambangan tak bertanggung jawab karena perannya yang penting dalam siklus hidrogeologi.
Diselingi lagu-lagu yang dibawakan oleh Musang, acara berlanjut ke pembicara selanjutnya yang menjadi perwakilan dari GEA untuk menyampaikan hasil sementara penelitian atau pemetaan hidrogeologi. Hardika Nugraha, (GEA 07), bercerita tentang apa saja yang dilakukan oleh GEA beberapa bulan terakhir di Desa Gn Masigit berikut perkembangan (progres) dari setiap kegiatan, dari pemetaan litologi, hingga survei geolistrik. Semua pemetaan tersebut diharapkan menghasilkan peta hidrogeologi yang akan disumbangkan ke warga desa Gn Masigit. Peta tersebut menjadi bekal utama bagi warga nantinya bila ingin meminta bantuan dana pembuatan sumur ke pihak-pihak terkait. Nugraha meminta maaf kepada masyarakat, bahwa untuk mencapai peta hidrogeologi diperlukan beberapa langkah lebih lanjut, sehingga apa yang disampaikannya waktu itu belumlah akhir atau kesimpulan dari acara geohumanism. Ia dan kawan-kawannya berjanji kembali ke Padalarang dan melanjutkan pemetaan hingga didapat peta hidrogeologi tersebut.
Sesi diskusi digunakan juga oleh warga untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka. “Apa yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa ITB dan Pak Budi ini, merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Pendidikan. Dan berjalan dengan sangat baik”, ungkap Pak Yono, warga desa setempat yang rumahnya juga kami gunakan untuk menginap di saat masa-masa pemetaan. Dhani Triamindo maju menanggapi pertanyaan mengenai tindak lanjut dari pemetaan ini. Dhani mengatakan, bukan kapasitas mahasiswa geologi untuk melakukan pengeboran dan tim geohumanism menjanjikan akan mencari ahli dan sponsor untuk pembuatan satu sumur di wilayah RW 14 Desa Gn Masigit. Pernyataan Dhani tersebut mendapatkan pembenaran dari Pak Budi dan tak pelik warga menyambutnya dengan applause meriah. “Kalau di desa lain kekeringan juga, paling tidak masih ada yang menjual (air), tapi kalau di RW 14 itu tidak ada mata air dan tidak ada yang jual. Oleh karena itu, saya membawa adik-adik mahasiswa ini ke sana”, Pak Asul, Sekretaris Desa Gn Masigit menambahkan.
Tak terasa acara selesai di pukul 16.00. Musang menutup acara dengan lagu-lagunya yang bertemakan sosial politik. Wargapun berpamitan pulang dan mengucap terima kasih kepada mahasiswa-mahasiswa dan Pak Budi. Acara pada hari itu berlangsung dengan sangat sukses.
We will never forget your smile, Padalarang!

Pemetaan untuk acara Geohumanism tersebut berlangsung intensif dalam bulan akhir bulan Desember saat liburan Natal dan Tahun Baru (21-31 Desember 2009). Sebelumnya, mereka hanya pergi di akhir pekan, Sabtu-Minggu, di bulan Oktober-November 2009. Fitrah Pratama selaku koordinator Divisi Lapangan mengaku, “Hujan menjadi hambatan bagi kami. Kami melihat prediksi dari accu-weather.com dan forecast.com, rasanya sulit dipercaya. 10 hari pemetaan tersebut diprediksi akan ditemani oleh thundershower dengan peluang terjadi 90% yang ternyata memang benar terjadi. Beruntung, kesigapan teman-teman GEA membereskan alat geolistrik sebelum jam 2 siang yang diprediksi bakal terjadi hujan pada jam tersebut, sehingga aman dari kerusakan. Hujan tersebut berdampak pada line geolistrik yang kita harapkan bisa 4-6 line, terpotong menjadi 2 line saja. Namun tidak masalah, kami masih memiliki semangat untuk melanjutkan penelitian ini lagi”.
Metode geolistrik yang digunakan oleh tim geohumanism dalam pemetaan ini adalah Metode Wenner. Sebanyak dua line, satu di wilayah RW 14, satu lainnya di jalan menuju gua pawon, keduanya dibentang sepanjang 200 m dengan arah NE-SW, diagonal terhadap area penelitian. Hasilnya berhasil diinversi dan menakjubkan ditemukan hole pada daerah gua pawon.
Pemetaan intensif tersebut juga menjadi sarana bagi GEA untuk saling mengajar dan belajar. “Ini akan menjadi bekal yang berharga bagi kami sebelum Karang Sambung nanti”, ungkap Gifar Fajri, GEA 07. “Wah, senang sekali bisa mengajari GEA yang lebih muda. Semoga kegiatan ini berguna bagi kita semua”, ungkap Syahrial Setiawan kepada suaragea.
January 13th, 2010 at 9:51 pm
aduh fotonya pas banget lagi ga ada gw nya.. hohohoho
January 13th, 2010 at 9:53 pm
ayo buat semuanya mari kita selesaikan Geohumanism ini sampai akhir. yaitu sampai kita bisa mengebor disana. mari kita cari cari sponsor supaya bisa sampe ngebor.