Sekilas Endmin: Anortosit – Titanium
Titanium merupakan logam dengan nomor atom 22 dan ditemukan oleh William Gregor di Inggris tahun 1791. Titanium dapat dicampur dengan besi, aluminium, vanadium, molibdenum dan unsur lain untuk membentuk logam campuran yang kuat dan ringan untuk pesawat (mesin jet, misil), keperluan militer, proses industri (kimia dan petrokimia, kertas), automotif, dan lain-lain.
Mineral yang mengandung titanium adalah mineral magnetit dan hematit yang mengandung titanium, atau mineral bijih titanium ilmenit (FeTiO3) dan rutile (TiO2). Kebanyakan mineral-mineral ini ditemukan dan berasosiasi dengan batuan beku anortosit dan endapan placer marin.
Anortosit yang mengandung mineral bijih titanium dapat dibagi menjadi dua pengertian:
- Anortosit merupakan batu yang terdiri dari 90% atau lebih plagioklas intermedier hingga asam (anortit, atau An90-An100)
- Ada juga mengatakan bahwa anortosit adalah batuan monomineral dengan mineral penyusun plagioklas An35 atau lebih
Pembentukkan anortosit dapat terjadi dengan cara:
- Kristalisasi mineral pada proses crystall settling (seperti pada pengendapan endapan ortomagmatik atau early magmatic), sehingga endapan membentuk perlapisan atau layered mafic intrusion
- Anortosit masif, berupa batuan pluton yang mengandung andesit dan labradorit (An35-An65)
Anortosit juga dapat terbentuk akibat partial melting dari komposisi toleit pada kedalaman rendah di astenosfir dan kemungkinan disebabkan akibat shallow rifting.
Pembentukkan mineral yang kaya akan titanium terjadi pada tahap akhir pembentukkan magma, dan kristalisasi titanium dikontrol oleh:
- Kelimpahan awal Ti
- Perubahan aktifitas kimia silika, aluminium, besi dan variabel tekanan parsial oksigen
- Pembentukkan immiscible liquids yang kaya titanium
- Temperatur kristalisasi
Karena anortosit termasuk dalam endapan early magmatic, batuan ini terbentuk di kontinen yang stabil.

