ITB mengganas di Asia?
Publikasi dari Survei THES (Times Higher Education Supplement) Asia tentang peringkat terbaik universitas Asia menyita perhatian banyak orang, terutama dari kalangan akademisi Indonesia. Secara umum, UI (Universitas Indonesia) berhasil masuk ke peringkat 50 besar Asia, kemudian UGM berada di peringkat 63, dan ITB di peringkat 80. Kampus Indonesia lain yang mendapat apresiasi dari THES Asia adalah Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Diponegoro.
ITB kalah dengan dua kampus besar lain di Indonesia. Dua kampus tersebut berbenah hebat beberapa akhir tahun ini. Inilah pembenahan dari UI (kutipan dari Jakarta Post): UI rector Gumilar Rusmiwa Sumantri said earlier that UI’s constant improvement was due to internal reforms such as efficient financial management, greater efforts to produce international journals and promoting the university as a destination for study to international students. Similar measures have likewise been adopted by the ITB, whose rector Djoko Santoso said it had been enjoying an increasing number of foreign students in the past few years. (Lihat lanjut). Lain halnya dengan UGM, UGM berbenah untuk mengubah kurikulum. Dana untuk infrasturktur dialihkan untuk revisi kurikulum (Lihat Lanjut).
Kalau ITB gimana ya?
Walau ITB kalah di peringkat secara umum, ITB mendapatkan peringkat 21 di bidang Engineering & IT sementara UI dan UGM berada diperingkat 44 dan 51. ITB juga berhasil mendapatkan peringkat 27 untuk Natural Science. ITB unggul di dua bidang di atas. Sisa kategori adalah Arts & Humanities, Life Science & Biomedicine, dan Social Science.
Kampus-kampus yang berasal dari negara Jepang dan Korea mendominasi 200 kampus terbaik versi THES Asia. Aspek-aspek yang dinilai dari THES Asia ini adalah, kualitas penelitian (academic peer review), rasio staf pengajar dan mahasiswanya (student faculty ratio), Citations per paper, papers per faculty,
recruiter review, international faculty review, international students review and student exchanges inbound and outbound. Rangking keseluruhan dapat dilihat di sini.
Ternyata bikin paper bisa bikin nama kampus baik, kalau paper kita dirujuk (citation) oleh ilmuwan lain…
So, bagaimana putra-putri terbaik bangsa? Kampus kalian masih nomor 3 di bangsa ini ternyata. Malu? Tidak harus. Berprestasi? Wajib! Agar banyak karya yang dihasilkan ITB, banyak pula yang mengadaptasi karya kita. GEA wati/wan inilah kesempatan kita membuat ITB berhutang budi ke kita. Mari buat karya yang bermanfaat dunia ilmiah.
1… 2… 3… GEA! Salam!
May 27th, 2009 at 11:08 pm
Ada ide gimana cara surrounding ke anak-anak bwt selalu giat bikin paper? ^_^
Jangan harus nunggu event besar kek IPA ato PIT IAGi loh… iseng2 aja studi pustaka juga siapa tahu bisa dipake sewaktu -waktu..
May 27th, 2009 at 11:22 pm
setuju… kalo sebulan menjelang deadline paper, semua beradu bikin abstrak. Dan baru setelah di approve, paper baru diproses. Bukannya yang ideal tu paper udah siap, baru kalau ada event, kita submit paper ya?
Akhir2 ini muncul wacana buat kredit sks bagi mahasiswa yang aktif nulis paper
. Selain itu, mahasiswa yang aktif buat kegiatan seperti GEAHumanism, GEAPeduli, dll juga bisa nambah sks. Jelasnya belum paham sih. Mudah-mudahan bisa cepat terlaksana, biar kita SO mulu, atau main catur mulu
.
Dan mudah2an itu bisa memacu temen2 GEA buat nulis ilmiah, salah satunya paper.
June 6th, 2009 at 5:05 am
Salah judul mas Hardika.. Yang ada “Peringkat ITB Turun di Asia!”
Harus diakui dan harus menjadi bahan koreksi buat kita.
Padahal, Saya kira ITB punya Potensial Sumberdaya Manusia yang sangat besar.
Siswa Input ITB selalu gradenya di atas rata-rata (kita selalu no. 1 di Indonesia).
Saya juga ingat waktu kita di sambut di sabuga sbg mahasiswa baru waktu itu.
Grade rata2 siswa yang masuk ITB jauh melampaui univ lainnya.
Timbul Pertanyaan besar;
Tapi bagaimana output-nya???
Dari fakta diatas,
Bagaimana kok bisa kualitas penelitian kita, jumlah penelitian/paper yang dihasilkan, dsb… kalah?
Nah loo, jadi kesalahan ada di mana-kah???
(Namun, tidak penting meributkan hal ini. Silahkan introspeksi masing-masing… Jadikan pelajaran dan ajang berbenah diri untuk ke depannya. Untuk almamater kita. Untuk ITB yg lebih baik)
Gimanapun Keadaanya;
Sebagai mahasiswa ITB kita tidak boleh diam!
Percayalah, kita hanya seperti “Singa Ganas” yang sedang tertidur.
Ayo Bangun! Dan kita rebut kembali kejayaan ITB!
Lakukan langkah nyata yg bisa kita lakukan.
1,2,3 GEA!
June 17th, 2009 at 10:30 am
@wildan
Judul tulisan di atas bukanlah pernyataan, perhatikan ada tanda tanya dibelakangnya, jadi kurang lebih dari judul di atas kita bertanya2, benarkah itb mengganas? Di peringkat umum ITB memang kalah, namun di 2 kategori engineering IT & natural science ITB masih ganas… Silakan disimpulkan sendiri, apakah kita membaik atau tidak? Kampus lain sudah berbenah dgn berbagai cara spt yang tertulis di atas.
August 18th, 2009 at 4:41 pm
jangan dibandingin, gak bakal nyambung. ITB Fokus dan selalu juara di Teknik, UGM selalu tertinggi di Ilmu2 Sosial, UI Fokus di Kedokteran. Udah ada jatahnya masing2.. Gak nyambung kalo ITB VS UGM atau ITB VS UI, kalo UI VS UGM mah masih lumayan nyambung..
August 30th, 2009 at 11:19 am
Dugaan Korupsi di Kemeneg PDT, Guru Besar ITB Ditahan
Written by Redaksi Web
Friday, 06 February 2009 11:10
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Made Astawa Rai ditahan Kejaksaan Agung (Kejagung). Astawa ditahan karena terlibat dugaan korupsi proyek fiktif di Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemenneg PDT).
Astawa yang menjabat Deputi Sumber Daya di Kemmeneg PDT ini terlihat dikawal oleh empat orang jaksa, keluar dari Gedung Bundar Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Kamis (5/2), pukul 18.35 WIB.
Astawa dan empat jaksa tadi kemudian masuk ke dalam mobil Kijang Innova satuan tugas khusus tindak pidana korupsi (tipikor). Dia dibawa ke rutan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Saat ditahan, Astawa yang mengenakan hem putih lengan pendek terlihat lelah. Maklum, dia diperiksa sejak pukul 09.00 WIB.
“Terhitung hari ini tersangka Prof DR MAR telah ditahan selama 20 hari. Dia diduga kuat terlibat tipikor proyek penyiapan data dan informasi spasial sumber daya alam di 30 kabupaten daerah tertinggal dalam rangka pengembangan ekonomi lokal,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Jasman Panjaitan.
Dugaan kerugian negara dalam kasus ini adalah Rp 4,4 miliar. Sementara uang yang masuk ke kantor Astawa, Jasman mengatakan mencapai Rp 400 juta.
Uang tersebut diterima langsung dari Pejabat Pembuat Komitmen Thomas Anjarwanto dan Ismanto Sulakmono dengan bukti pencairan dana berupa cek di BCA cabang Bidakara. Sedangkan peran Astawa dalam kasus ini sebagai kuasa pengguna anggaran.
“Anggaran bisa turun berkat tanda tangan dia,” ujar Jasman.
Sebelumnya, Kejagung sudah menetapkan tersangka lain dalam kasus ini, yaitu Deputi urusan teknologi Kemeneg PDT Sofyan Basri, Ketua Panitia Penerima dan Pemeriksaan Barang R. Surahman, dan Pelaksana PT XA International Imam Hidayat.
Tersangka lain yang sudah disidangkan Thomas Anjar dan Direktur PT Tunas Intercomindo Sejati Tri Marjoko.
DETIK | GLOBAL | Jakarta
January 10th, 2010 at 11:38 am
pengen ke ITB…