Persiapan Ekskursi Sedimentologi
Bagi-bagi catatan tadi pagi…
Ekskursi sedimentologi, tujuan ke Jonggol. Jadwal, Sabtu, 30 Mei 2009. Berangkat dari Kampus ITB jam 6 pagi. Di bawah ini ada catatan dari briefing Jumat siang. Read more »
Bagi-bagi catatan tadi pagi…
Ekskursi sedimentologi, tujuan ke Jonggol. Jadwal, Sabtu, 30 Mei 2009. Berangkat dari Kampus ITB jam 6 pagi. Di bawah ini ada catatan dari briefing Jumat siang. Read more »
Publikasi dari Survei THES (Times Higher Education Supplement) Asia tentang peringkat terbaik universitas Asia menyita perhatian banyak orang, terutama dari kalangan akademisi Indonesia. Secara umum, UI (Universitas Indonesia) berhasil masuk ke peringkat 50 besar Asia, kemudian UGM berada di peringkat 63, dan ITB di peringkat 80. Kampus Indonesia lain yang mendapat apresiasi dari THES Asia adalah Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Diponegoro.
ITB kalah dengan dua kampus besar lain di Indonesia. Dua kampus tersebut berbenah hebat beberapa akhir tahun ini. Inilah pembenahan dari UI (kutipan dari Jakarta Post): UI rector Gumilar Rusmiwa Sumantri said earlier that UI’s constant improvement was due to internal reforms such as efficient financial management, greater efforts to produce international journals and promoting the university as a destination for study to international students. Similar measures have likewise been adopted by the ITB, whose rector Djoko Santoso said it had been enjoying an increasing number of foreign students in the past few years. (Lihat lanjut). Lain halnya dengan UGM, UGM berbenah untuk mengubah kurikulum. Dana untuk infrasturktur dialihkan untuk revisi kurikulum (Lihat Lanjut).
Kalau ITB gimana ya?
Walau ITB kalah di peringkat secara umum, ITB mendapatkan peringkat 21 di bidang Engineering & IT sementara UI dan UGM berada diperingkat 44 dan 51. ITB juga berhasil mendapatkan peringkat 27 untuk Natural Science. ITB unggul di dua bidang di atas. Sisa kategori adalah Arts & Humanities, Life Science & Biomedicine, dan Social Science.
Kampus-kampus yang berasal dari negara Jepang dan Korea mendominasi 200 kampus terbaik versi THES Asia. Aspek-aspek yang dinilai dari THES Asia ini adalah, kualitas penelitian (academic peer review), rasio staf pengajar dan mahasiswanya (student faculty ratio), Citations per paper, papers per faculty,
recruiter review, international faculty review, international students review and student exchanges inbound and outbound. Rangking keseluruhan dapat dilihat di sini.
Ternyata bikin paper bisa bikin nama kampus baik, kalau paper kita dirujuk (citation) oleh ilmuwan lain…
So, bagaimana putra-putri terbaik bangsa? Kampus kalian masih nomor 3 di bangsa ini ternyata. Malu? Tidak harus. Berprestasi? Wajib! Agar banyak karya yang dihasilkan ITB, banyak pula yang mengadaptasi karya kita. GEA wati/wan inilah kesempatan kita membuat ITB berhutang budi ke kita. Mari buat karya yang bermanfaat dunia ilmiah.
1… 2… 3… GEA! Salam!
Pada hari Minggu tanggal 17 dan 24 Mei 2009, M.K. Petrologi (GL-2042) mengadakan ekskursi ke daerah Padalarang.
Dosen yang ikut adalah tentu saja dosen legendaris kita yang namanya sudah diabadikan di salah satu lagu Musang, Prof. Dr. Emmy Suparka.

Ekskursi ini dibagi menjadi dua shift agar pesertanya lebih sedikit hingga penyampaian materi dapat lebih efektif.
Eksursi ini melibatkan banyak anggota GEA sebagai peserta maupun asisten.
Di bawah ini adalah kronologi dari ekskursi tgl 17 Mei (shift I).
06.00 – 07.30 : Apel pagi; pembagian peralatan kelompok yakni palu, kompas, dan HCl. Di utara gedung program studi.
07.30 – 08.30 : Perjalanan ke Padalarang

09.00 – 11.00 : Lokasi 1.A. – Pasir Tanggulun; lokasi 1.B. – Pasir Tanggulun; lokasi 1.C. – Pasir Bende;

11.00 – 13.00 : Lokasi 2 – Sungai Cibogo

13.00 – 14.30 : Isoma. Di SPBU terdekat.
15.00 – 16.00 : Lokasi 3 – Gua Pawon

16.00 – 18.00 : Lokasi 4 – Stone Garden
Ada alumni GEA yang mau berbagi kisah ekskursi Petrologi di masanya? Atau berbagi tips and tricks untuk ekskursi-ekskursi lainnya? Ditunggu, ya, tulisannya =)
Flysch adalah sekuen batuan sedimen yang terdeposisi di fasies laut dalam di foreland basin dari pertumbuhan orogen. Flysch pada umumnya terdeposisi pada tahap awal orogenesis. Saat orogen sudah berkembang, foreland basin akan semakin dangkal dan molasse (sandstone, conglomerate, shales yang terbentuk di terrestrial atau laut dangkal yang terdeposisi diatas rantai pegunungan) terdeposit di bagian atas flysch. Terkadang dinamakan syn-orogenic sediment, yaitu sedimen yang terdeposit secara serentak pada pembentukan pegunungan.

Flysch merupakan sekuen sedimen yang cenderung upwards fining (menghalus ke atas). Biasanya pada bagian dasar terdapat conglomerate, yang akan secara gradual menghalus ke atas menjadi sandstone dan shale/claystone. Pada sekuen ini shale tidak terlalu banyak terdapat fosil, dan sandstone sering memiliki fraksi mika dan glaukonit.
Flysch terbentuk pada lingkungan laut dalam, kondisi tenang dan linkungan dengan energi deposisi yang rendah. Pengecualian dari bagian kasar pada sekuen (conglomerate), merupakan endapan mass transport/turbidite yang disebabkan oleh orogenesa
Flysch biasa terbentuk di zona subduksi pada tahap continental collision.
Sumber : The Penguin Dictionary of Geology (D.G.A Whitten & J.R.V. Brooks), en.wikipedia.org/wiki/Flysch
Minggu UAS seperti ini cukup menghambat produktivitas menulis kontributor Suara GEA sepertinya. Semoga hasil yang didapat akan sesuai dengan yang diperjuangkan
Sementara ini, ada titipan angket dari Pak Bambang Priadi untuk para alumni, begini pesan cintanya:
Rekan Alumni ysh,
Mohon kesediaannya untuk mengisi angket ini, mohon dipilih mana yang dianggap paling sesuai. Silakan bila ingin memilih lebih dari satu pilihan. Terima kasih atas kerjasamanya.
(Tim Tracer Study : Bambang Priadi – bpriadi@gc.itb.ac.id / 08122488993)
Angket bisa didownload di sini.
Sharing lagii. Kali ini tentang SOIL. Tapi, lebih dari sisi geologi fisiknya dibanding geokimianya. Buat yang lagi ngambil geokimia soil, mungkin ini bisa dijadikan basic knowledge ajaa..dibaca-baca sambil minum teh di pagi hari. Hoho ^^’
Credit: Physical Geology (Twelfth Edition) by C. Plummer and D. Carlson
SOIL
Penggunaan istilah soil secara awam mengarah kepada sebutan untuk material lepas dan tak terkonsolidasi yang menutupi hampir seluruh permukaan daratan. Namun demikian, ahli geologi mengistilahkan regolith untuk definisi di atas dan kemudian mengistilahkan soil untuk lapisan material lapuk dan tak terkonsolidasi yang mengandung bahan-bahan organik dan mampu mendukung hidup tumbuhan. Soil yang matang dan subur merupakan hasil dari berabad-abad pelapukan batuan, dikombinasikan dengan pembusukan tumbuhan dan bahan organik lainnya. Untuk kajian sistem Bumi, soil memiliki peranan penting dalam interaksi antara bagian Bumi yang padat (geosfer), biosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Soil adalah sumber daya penting bagi kelangsungan hidup di Bumi.
Rata-rata soil mengandung 45% batuan dan pecahan mineral (termasuk lempung), 5%
humus, dan 50% rongga pori. Batuan dan pecahan mineral pada soil menjadi tempat ‘berlabuh’ bagi akar tumbuhan. Mineral lempung menyerap air dan ion nutrien yang nantinya akan diserap akar tumbuhan. Humus melepaskan asam lemah yang membantu proses pelapukan kimawi. Humus juga menghasilkan nutrisi bagi tumbuhan dan meningkatkan kemampuan menahan air dari soil. Rongga pori adalah komponen penting yang terakhir dari soil. Air dan udara bersirkulasi melalui rongga pori, membawa serta nutrien terlarut dan CO2 yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan.
Ukuran dan jumlah dari rongga pori pada soil, oleh karena itu juga kemampuan soil untuk menyalurkan udara dan air, sebagian besar merupakan fungsi dari tekstur soil. Tekstur soil mengacu pada proporsi antara partikel-partikel yang berbeda ukuran, umumnya mengacu pada pasir, lanau, dan lempung. Kuarsa umumnya lapuk menjadi butiran berukuran pasir yang membantu soil tetap lepas-lepas dan teraerasi, memudahkan drainase (lewatnya) air. Kristal feldspar dan mineral lainnya yang setengah lapuk juga dapat menghasilkan butiran berukuran pasir. Namun, soil dengan terlalu banyak kandungan butiran berukuran pasir akan melewatkan air terlalu cepat dan tumbuhan akan kekurangan air.